Memilih lokasi billboard sering kali dimulai dari satu pertanyaan sederhana: berapa banyak kendaraan yang melewati lokasi tersebut setiap hari?
Pertanyaan itu memang penting. Semakin tinggi volume lalu lintas, semakin besar potensi sebuah billboard mendapatkan exposure. Namun, menjadikan traffic sebagai satu-satunya ukuran bisa menjadi kesalahan besar.
Dalam iklan luar ruang atau Out-of-Home Advertising (OOH), lokasi billboard yang efektif bukan selalu lokasi dengan jumlah kendaraan paling banyak. Ada faktor lain yang ikut menentukan apakah sebuah iklan benar-benar terlihat, diperhatikan, diingat, dan pada akhirnya memberikan dampak bagi brand.
Faktor tersebut meliputi kecepatan kendaraan, arah perjalanan, durasi melihat, visibilitas, sudut billboard, karakter audiens, kondisi jalan, lingkungan sekitar, hingga frekuensi seseorang melewati titik tersebut.
Hal ini membuat pemilihan lokasi billboard sebenarnya lebih dekat dengan ilmu tentang perilaku manusia dan mobilitas kota daripada sekadar mencari jalan yang ramai.
Data Nielsen menunjukkan betapa besar potensi media luar ruang di Indonesia. Dalam studi Consumer Media & View di 11 kota, Nielsen menemukan bahwa 67% konsumen menghabiskan rata-rata 4 jam 33 menit di luar rumah pada hari kerja dan rata-rata 1 jam 18 menit dalam perjalanan. Studi tersebut juga mencatat coverage OOH sebesar 66%. Data ini berasal dari 2019 sehingga tidak dapat dianggap sebagai angka kondisi terkini, tetapi tetap menunjukkan karakter penting OOH: aktivitas perjalanan menciptakan kesempatan exposure yang besar bagi brand.
Lalu, bagaimana sebenarnya cara memilih lokasi billboard berdasarkan traffic?
Traffic Tinggi Bukan Berarti Billboard Pasti Efektif
Kesalahan paling umum dalam memilih billboard adalah menganggap:
Traffic tinggi = billboard bagus.
Padahal hubungan tersebut tidak selalu sesederhana itu.
Bayangkan ada dua billboard.
Billboard A berada di jalan yang dilewati 100.000 kendaraan per hari, tetapi kendaraan bergerak cepat, billboard berada di sudut yang kurang ideal, dan sebagian bidang tertutup pepohonan.
Billboard B hanya berada di jalan dengan 50.000 kendaraan per hari, tetapi kendaraan sering melambat di persimpangan, billboard terlihat jelas dari jarak jauh, dan sebagian besar pengendara merupakan target pasar brand.
Dalam kondisi tertentu, Billboard B bisa memberikan exposure yang lebih berkualitas.
Artinya, traffic harus dibaca sebagai data awal, bukan sebagai keputusan akhir.
Nielsen sendiri sejak mengembangkan pengukuran OOH di Indonesia menggunakan sejumlah variabel dalam pemetaan media luar ruang, termasuk kondisi teknis media, aspek geo-demografis, dan lalu lintas. Artinya, penilaian lokasi memang idealnya tidak hanya berdasarkan jumlah kendaraan.
Apa yang Dimaksud dengan Traffic Billboard?
Dalam konteks billboard, traffic mengacu pada arus orang atau kendaraan yang melewati area di sekitar media dalam periode tertentu.
Namun, istilah traffic dapat memiliki beberapa bentuk.
1. Vehicle Traffic
Jumlah kendaraan yang melintas.
Ini merupakan data yang paling sering digunakan ketika menjual billboard di jalan raya.
2. Pedestrian Traffic
Jumlah pejalan kaki yang melewati lokasi.
Relevan untuk billboard yang berada di sekitar pusat perbelanjaan, kawasan transit, stasiun, pedestrian area, atau pusat kota.
3. Passenger Traffic
Jumlah orang yang berada di dalam kendaraan.
Sebuah jalan mungkin memiliki banyak kendaraan, tetapi komposisi kendaraan juga penting.
4. Repeat Traffic
Seberapa sering orang yang sama melewati lokasi tersebut.
Ini penting karena OOH bekerja kuat melalui repetition.
Seseorang yang melewati billboard yang sama setiap hari selama perjalanan menuju kantor memiliki kemungkinan exposure berulang yang berbeda dengan wisatawan yang hanya melewati lokasi tersebut sekali.
Mengapa Traffic Penting dalam Billboard?
Billboard bekerja dengan prinsip sederhana: brand harus terlihat sebelum dapat diingat.
Semakin banyak orang yang berpotensi melewati media, semakin besar peluang mendapatkan exposure.
Namun, exposure saja belum cukup.
Dalam pemasaran, kita dapat membayangkan perjalanan sederhana:
Traffic → Visibility → Attention → Recall → Consideration → Action
Traffic berada di bagian paling awal.
Jika traffic tinggi tetapi billboard tidak terlihat, proses berhenti pada tahap pertama.
Jika billboard terlihat tetapi desainnya sulit dipahami, perhatian tidak terbentuk.
Jika diperhatikan tetapi brand tidak jelas, recall gagal.
Karena itu, traffic merupakan fondasi, bukan keseluruhan strategi.
Data Traffic Palembang Menunjukkan Mengapa Lokasi Menjadi Penting
Palembang merupakan kota dengan sejumlah koridor utama yang memiliki aktivitas perdagangan, perkantoran, pendidikan, permukiman, dan transportasi.
Salah satu contoh menarik adalah Jalan Jenderal Sudirman.
Penelitian Universitas Bina Darma mengenai ruas Jalan Jenderal Sudirman Km 3–Km 4,5 menyebut kawasan tersebut didominasi pusat pertokoan, perkantoran, dan kuliner, serta mengalami persoalan kemacetan akibat tingginya aktivitas lalu lintas.
Penelitian lain pada ruas Jalan Jenderal Sudirman Km 0–Km 5 menggunakan data Lalu Lintas Harian Rata-Rata dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Sumatera Selatan. Penelitian tersebut menemukan volume lalu lintas harian rata-rata di ruas tersebut mengalami peningkatan pada periode 2019–2023. Studi itu menghitung pertumbuhan total kendaraan sekitar 5,71% per tahun, sementara pertumbuhan kendaraan dalam satuan mobil penumpang sekitar 4,55% per tahun.
Angka ini menarik bagi industri OOH karena menunjukkan bahwa traffic bukan angka yang selalu statis.
Kota berkembang, pola perjalanan berubah, dan nilai sebuah lokasi media juga dapat berubah.
Karena itu, data traffic sebaiknya diperbarui secara berkala.
Jangan Hanya Melihat Jumlah Kendaraan
Ketika mendapatkan proposal billboard, jangan berhenti pada pertanyaan:
“Berapa kendaraan per hari?”
Ajukan pertanyaan tambahan:
-
Dari mana data traffic berasal?
-
Kapan data tersebut dikumpulkan?
-
Apakah data berasal dari survei langsung?
-
Apakah kendaraan dihitung dua arah atau satu arah?
-
Apakah terdapat perbedaan traffic hari kerja dan akhir pekan?
-
Kapan jam sibuk terjadi?
-
Berapa kecepatan rata-rata kendaraan?
-
Bagaimana kondisi traffic ketika hujan?
-
Apakah ada aktivitas sekolah atau perkantoran di sekitar lokasi?
-
Apakah terdapat persimpangan atau lampu merah?
Semakin lengkap informasi tersebut, semakin baik kualitas keputusan.
1. Lihat Peak Hour
Traffic tidak selalu sama sepanjang hari.
Sebuah jalan mungkin relatif sepi pukul 06.00, meningkat pukul 07.00–09.00, kembali stabil pada siang hari, kemudian sangat padat pukul 16.00–18.00.
Untuk billboard, informasi tersebut penting.
Jika target audiens Anda adalah pekerja kantoran, misalnya, traffic pukul 07.00–09.00 dan 16.00–19.00 mungkin jauh lebih relevan.
Sebaliknya, jika target Anda adalah keluarga yang berbelanja, traffic akhir pekan di sekitar pusat perbelanjaan bisa lebih penting daripada traffic hari kerja.
Dengan demikian, traffic harus dibaca berdasarkan waktu.
2. Kecepatan Kendaraan Menentukan Waktu Melihat
Jumlah kendaraan tinggi tetapi semuanya bergerak cepat tidak otomatis menghasilkan exposure berkualitas.
Kecepatan kendaraan memengaruhi dwell time, yaitu waktu yang tersedia bagi seseorang untuk melihat media.
Sumber panduan OOH juga menekankan bahwa kecepatan kendaraan perlu diperhatikan ketika memilih billboard. Kendaraan yang bergerak lebih lambat memberikan waktu lebih panjang bagi audiens untuk memproses pesan.
Ini sebabnya persimpangan, lampu merah, area perlambatan, atau ruas jalan yang sering mengalami antrean dapat memiliki karakter exposure yang berbeda dengan jalan bebas hambatan.
Namun, bukan berarti kemacetan selalu ideal.
Jika kemacetan membuat billboard tertutup kendaraan besar atau sudut pandang berubah, kualitas exposure juga dapat terganggu.
Jadi yang dicari bukan sekadar:
“jalan macet.”
Tetapi:
“situasi lalu lintas yang memberikan kesempatan melihat billboard.”
3. Perhatikan Arah Arus Kendaraan
Sebuah billboard bisa mendapatkan traffic tinggi tetapi salah arah.
Misalnya billboard berada di sisi jalan tertentu, sementara mayoritas target audiens bergerak ke arah berlawanan.
Akibatnya, angka traffic terlihat besar tetapi traffic yang relevan sebenarnya lebih kecil.
Karena itu, selalu tanyakan:
“Billboard ini paling banyak dilihat dari arah mana?”
Kemudian perhatikan apakah arah tersebut sesuai dengan perjalanan target konsumen.
Untuk bisnis lokal, arah perjalanan bahkan dapat menjadi sangat penting.
Misalnya restoran berada di sisi timur kota. Billboard yang ditempatkan pada jalur menuju restoran bisa berfungsi sebagai pengingat sekaligus petunjuk lokasi.
4. Visibility Lebih Penting daripada Sekadar Traffic
Billboard harus terlihat.
Kedengarannya sederhana, tetapi banyak lokasi yang memiliki traffic tinggi namun visibility-nya buruk.
Perhatikan:
-
pohon;
-
tiang listrik;
-
kabel;
-
bangunan;
-
papan reklame lain;
-
rambu;
-
konstruksi;
-
kendaraan besar;
-
dan elemen visual lainnya.
Selain itu, perhatikan jarak pandang.
Apakah billboard dapat terlihat dari 100 meter?
200 meter?
300 meter?
Semakin jauh billboard dapat terlihat dengan jelas, semakin banyak waktu tersedia bagi pengguna jalan untuk mengenali brand.
Salah satu contoh di Palembang adalah titik billboard di Jalan R. Sukamto di depan PTC Mall yang dipasarkan sebagai lokasi dengan akses jalan padat dan berada dekat sejumlah pusat aktivitas seperti PTC Mall, RS Siloam Sriwijaya, Stadion Gelora Sriwijaya, dan Universitas Sriwijaya Kampus Palembang.
Namun, klaim traffic dari penyedia media tetap sebaiknya diverifikasi sebelum digunakan sebagai dasar utama investasi.
5. Traffic Harus Sesuai dengan Target Audiens
Ini merupakan bagian yang paling sering dilupakan.
Bayangkan sebuah billboard mendapatkan 100.000 kendaraan per hari.
Apakah semuanya merupakan calon konsumen?
Tentu tidak.
Jika produk Anda menyasar eksekutif muda, traffic yang didominasi kendaraan komersial mungkin memiliki nilai berbeda dibandingkan traffic di kawasan perkantoran.
Jika produk Anda menyasar keluarga, kawasan pusat perbelanjaan dan permukiman mungkin lebih relevan.
Jika produk Anda menyasar wisatawan, jalur menuju bandara, hotel, dan destinasi wisata dapat memiliki nilai strategis.
Karena itu:
Traffic tinggi + audiens tidak relevan = exposure yang boros.
Sebaliknya:
Traffic lebih rendah + audiens sangat relevan = exposure yang berpotensi lebih bernilai.
6. Analisis Lingkungan Sekitar Billboard
Jangan hanya melihat jalan.
Lihat apa yang berada di sekitar jalan tersebut.
Lingkungan dapat memberikan informasi tentang siapa yang melakukan perjalanan.
Contohnya:
Kawasan perkantoran
Potensi audiens:
-
pekerja;
-
profesional;
-
pengusaha;
-
pengambil keputusan.
Kawasan pendidikan
Potensi audiens:
-
mahasiswa;
-
pelajar;
-
dosen;
-
orang tua.
Kawasan pusat perbelanjaan
Potensi audiens:
-
keluarga;
-
konsumen retail;
-
anak muda;
-
wisatawan.
Kawasan rumah sakit
Potensi audiens:
-
pasien;
-
keluarga;
-
tenaga medis;
-
pengunjung.
Kawasan bandara
Potensi audiens:
-
wisatawan;
-
pebisnis;
-
pendatang;
-
masyarakat dengan mobilitas tinggi.
Dengan demikian, traffic dapat menjadi proxy untuk memahami karakter kawasan.
7. Bedakan Traffic Hari Kerja dan Weekend
Jangan puas dengan satu angka traffic.
Sebuah lokasi mungkin memiliki traffic sangat tinggi pada hari kerja tetapi turun drastis pada akhir pekan.
Lokasi lain mungkin justru sebaliknya.
Misalnya kawasan perkantoran:
Senin–Jumat: sangat aktif.
Sabtu–Minggu: relatif menurun.
Sementara kawasan mall:
Senin–Jumat: normal.
Sabtu–Minggu: bisa meningkat.
Pemilihan lokasi harus disesuaikan dengan kapan target audiens Anda aktif.
8. Gunakan Data Traffic per Jam, Bukan Hanya per Hari
Jika vendor memberikan angka:
“100.000 kendaraan per hari.”
Tanyakan lebih lanjut:
“Bagaimana distribusinya per jam?”
Misalnya:
| Waktu | Traffic |
|---|---|
| 06.00–09.00 | Tinggi |
| 09.00–12.00 | Sedang |
| 12.00–15.00 | Sedang |
| 15.00–19.00 | Sangat tinggi |
| 19.00–22.00 | Sedang |
Data seperti ini jauh lebih berguna daripada satu angka total.
Pengiklan dapat mencocokkannya dengan kebiasaan target audiens.
9. Gunakan Traffic sebagai Salah Satu Komponen Scoring
Agar keputusan lebih objektif, Anda dapat membuat sistem scoring.
Misalnya:
Traffic = 30%
Visibility = 25%
Target audience = 20%
Dwell time = 10%
Lingkungan sekitar = 10%
Harga = 5%
Setiap lokasi kemudian diberi skor 1–10.
Contohnya:
Billboard A
Traffic: 10
Visibility: 6
Audience: 7
Dwell time: 5
Lingkungan: 8
Harga: 5
Billboard B
Traffic: 8
Visibility: 10
Audience: 10
Dwell time: 9
Lingkungan: 9
Harga: 7
Walaupun Billboard A memiliki traffic lebih tinggi, Billboard B bisa mendapatkan skor keseluruhan lebih baik.
Inilah cara berpikir yang lebih tepat dalam memilih OOH.
10. Jangan Menganggap Kemacetan Selalu Positif
Ini penting.
Banyak orang berpikir:
“Kalau macet berarti billboard bagus.”
Tidak selalu.
Kemacetan memang dapat memperpanjang waktu seseorang berada di area billboard.
Tetapi kemacetan juga dapat menimbulkan beberapa masalah:
-
billboard tertutup kendaraan;
-
perhatian pengemudi terbagi;
-
pandangan terhalang kendaraan besar;
-
kendaraan berhenti pada posisi yang tidak ideal;
-
dan tingkat stres pengemudi meningkat.
Studi mengenai Jalan Jenderal Sudirman Palembang menunjukkan bahwa beberapa titik ruas tersebut dapat mengalami kondisi lalu lintas berat. Penelitian pada koridor tertentu bahkan menemukan level of service F pada kondisi puncak.
Penelitian yang lebih baru mengenai U-turn di depan RSUP Dr. Mohammad Hoesin juga menemukan derajat kejenuhan di atas 1 dan kecepatan rata-rata terendah sekitar 12,11 km/jam pada periode puncak tertentu.
Dari perspektif OOH, data tersebut menarik.
Traffic yang sangat lambat memang dapat memperpanjang waktu berada di sekitar media, tetapi harus dilihat bersamaan dengan kualitas visibility dan keselamatan pengguna jalan.
Studi Kasus: Jalan R. Sukamto Palembang
Jalan R. Sukamto menjadi contoh menarik bagaimana data traffic perlu dibaca secara lebih mendalam.
Penelitian teknik sipil mengenai ruas Jalan R. Sukamto pada 2021 mencatat arus lalu lintas pada salah satu zona mencapai 2.755,85 satuan kendaraan ringan per jam pada periode 11.00–12.00. Pada zona lainnya, puncak pagi tercatat sekitar 2.534,45 satuan kendaraan ringan per jam pada 07.00–08.00.
Angka tersebut berasal dari survei pada 2021 sehingga bukan data traffic real-time 2026. Namun, penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa ruas R. Sukamto memiliki pola lalu lintas yang signifikan.
Menariknya, kawasan ini juga memiliki pusat aktivitas komersial. Salah satu titik billboard di depan PTC Mall saat ini dipasarkan sebagai lokasi strategis karena berhadapan langsung dengan pusat perbelanjaan dan dekat sejumlah fasilitas penting.
Ini menunjukkan bahwa traffic dan lingkungan komersial dapat saling memperkuat nilai sebuah lokasi OOH.
Studi Kasus: Jalan Jenderal Sudirman Palembang
Jalan Jenderal Sudirman juga merupakan contoh bagaimana traffic harus dibaca bersama karakter kawasan.
Koridor ini didominasi oleh aktivitas perdagangan, perkantoran, dan kuliner. Studi lalu lintas menunjukkan adanya pertumbuhan volume kendaraan pada ruas Km 0–Km 5 selama 2019–2023.
Pada 2026, kepadatan di Jalan Jenderal Sudirman juga masih terlihat dalam situasi tertentu. RRI melaporkan bahwa pada hari pertama sekolah pada Juli 2026, kepadatan terjadi pada jam pulang sekolah dan berlangsung sekitar pukul 15.30 hingga 18.30, dengan antrean dari sekitar SMA Negeri 3 menuju sejumlah persimpangan utama.
Artinya, traffic bukan hanya angka tahunan.
Pola mobilitas dapat berubah karena:
-
sekolah;
-
jam kerja;
-
event;
-
liburan;
-
pembangunan;
-
perubahan rute;
-
pusat aktivitas baru;
-
dan perubahan tata kota.
Karena itu, data lama perlu diperlakukan sebagai referensi, bukan sebagai kebenaran permanen.
Berapa Traffic yang Bisa Disebut “Bagus”?
Tidak ada satu angka universal.
Tidak ada aturan bahwa:
“Billboard bagus harus memiliki 100.000 kendaraan per hari.”
Karena nilai traffic sangat bergantung pada:
jenis produk + target audiens + tujuan kampanye + visibility + lokasi.
Untuk brand nasional, traffic besar mungkin sangat penting.
Untuk bisnis lokal, traffic 20.000 kendaraan yang sangat relevan bisa saja lebih berharga daripada 100.000 kendaraan yang tidak relevan.
Karena itu, daripada menetapkan angka minimum, lebih baik gunakan konsep:
Relevant Traffic.
Relevant traffic adalah traffic yang kemungkinan besar terdiri dari target audiens yang ingin dijangkau brand.
Bagaimana Cara Memverifikasi Data Traffic Billboard?
Sebelum membeli media, lakukan beberapa langkah.
Pertama: minta sumber data
Tanyakan apakah data berasal dari:
-
survei manual;
-
CCTV;
-
sensor kendaraan;
-
GPS;
-
pemerintah;
-
lembaga riset;
-
atau estimasi internal vendor.
Kedua: minta periode pengukuran
Data 2021 tentu tidak dapat diperlakukan sama dengan data 2026.
Ketiga: tanyakan arah
Apakah angka merupakan:
satu arah atau dua arah?
Keempat: minta data per jam
Ini membantu melihat peak hour.
Kelima: lakukan site visit
Datang langsung.
Lihat kondisi billboard dari posisi pengguna jalan.
Keenam: lakukan pengecekan beberapa waktu
Idealnya:
-
pagi;
-
siang;
-
sore;
-
malam;
-
weekday;
-
weekend.
Dengan cara ini, pengiklan mendapatkan gambaran yang jauh lebih realistis.
Traffic Bukan Reach
Ini perbedaan yang sangat penting.
Misalnya sebuah jalan dilalui 100.000 kendaraan.
Bukan berarti billboard otomatis mendapatkan:
100.000 orang unik.
Orang yang sama mungkin melewati billboard tersebut setiap hari.
Sebaliknya, satu kendaraan juga bisa membawa lebih dari satu orang.
Karena itu:
Traffic ≠ Reach ≠ Impressions.
Traffic adalah arus kendaraan atau orang.
Reach adalah jumlah individu yang terpapar.
Impressions menggambarkan total peluang exposure.
Frekuensi menunjukkan berapa kali audiens berpotensi terpapar.
Dalam OOH, keempat konsep tersebut harus dibedakan.
Mengapa Frekuensi Justru Sangat Penting?
Billboard tidak harus membuat seseorang langsung membeli.
Fungsi utamanya sering kali adalah membangun ingatan.
Orang melihat billboard hari Senin.
Melihat lagi Selasa.
Melihat lagi Rabu.
Mungkin mereka tidak sadar sedang menerima pesan yang sama berulang kali.
Tetapi setelah beberapa minggu, nama brand tersebut menjadi lebih familiar.
Studi Nielsen sebelumnya menunjukkan bahwa 64% konsumen dalam studi mereka menyatakan melihat iklan static outdoor dalam seminggu terakhir sebanyak 10 kali. Sekali lagi, angka tersebut merupakan hasil studi 2019, bukan benchmark 2026, tetapi memperlihatkan pentingnya pengulangan dalam media luar ruang.
Jadi lokasi dengan traffic yang terdiri dari komuter berulang dapat memiliki nilai yang berbeda dari lokasi yang hanya dilalui audiens satu kali.
Formula Sederhana Menilai Lokasi Billboard
Untuk kebutuhan awal, pengiklan dapat menggunakan formula konseptual:
Nilai Lokasi = Traffic × Visibility × Relevansi Audiens × Dwell Time × Frequency
Kemudian dibandingkan dengan:
Cost per Exposure
Tujuannya bukan mencari angka matematika yang sempurna.
Tujuannya adalah mengubah cara berpikir dari:
“Billboard ini ramai.”
menjadi:
“Billboard ini memiliki peluang exposure yang tinggi terhadap audiens yang relevan dengan biaya yang masuk akal.”
Itulah cara berpikir yang lebih dekat dengan marketing.
Checklist Sebelum Memilih Billboard Berdasarkan Traffic
Sebelum menandatangani kontrak, pastikan Anda sudah mengetahui:
-
Volume traffic harian
-
Traffic per jam
-
Traffic weekday
-
Traffic weekend
-
Arah kendaraan
-
Kecepatan rata-rata
-
Jarak pandang
-
Sudut billboard
-
Hambatan visual
-
Kondisi pencahayaan malam
-
Karakter audiens
-
Point of interest di sekitar
-
Frekuensi perjalanan audiens
-
Sumber data traffic
-
Tahun/periode pengukuran
-
Harga sewa
-
Pajak dan biaya tambahan
-
Legalitas dan perizinan
Jika sebagian besar informasi tersebut tidak tersedia, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa sebuah lokasi adalah “strategis”.
Kesimpulan: Billboard Terbaik Bukan yang Paling Ramai
Traffic tetap merupakan salah satu indikator paling penting dalam memilih lokasi billboard.
Namun, traffic bukan satu-satunya indikator.
Data Nielsen menunjukkan bahwa OOH memiliki kemampuan reach yang signifikan karena masyarakat menghabiskan banyak waktu di luar rumah dan dalam perjalanan. Di Palembang sendiri, berbagai penelitian lalu lintas menunjukkan bahwa koridor seperti Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan R. Sukamto memiliki aktivitas lalu lintas yang tinggi, meskipun data yang tersedia berasal dari periode pengukuran yang berbeda dan tidak boleh diperlakukan sebagai angka real-time.
Karena itu, ketika memilih billboard, jangan hanya bertanya:
“Berapa kendaraan yang lewat?”
Tanyakan juga:
“Siapa yang lewat?”
“Kapan mereka lewat?”
“Seberapa cepat mereka bergerak?”
“Apakah mereka bisa melihat billboard dengan jelas?”
“Berapa kali mereka berpotensi melihatnya?”
“Apakah mereka merupakan target konsumen saya?”
Pada akhirnya, billboard dengan traffic tertinggi belum tentu menjadi billboard dengan performa terbaik.
Yang paling bernilai adalah lokasi yang mampu mempertemukan brand dengan audiens yang tepat, dalam kondisi visibility yang baik, secara berulang, dan dengan biaya yang masuk akal.
Dengan pendekatan tersebut, pemilihan billboard tidak lagi berdasarkan klaim “lokasi ramai”.
Keputusan berubah menjadi lebih objektif:
data traffic → kualitas exposure → relevansi audiens → frekuensi → nilai bisnis.
Dan di situlah sebenarnya kualitas sebuah lokasi billboard dapat dinilai.
